J-Torsa. Psp - Indonesia adalah negeri di mana imperialisme lama bertemu dengan imperialisme baru. Ini adalah negeri
yang tidak semestinya miskin, kaya dalam hampir segalanya: Tembaga dan emas, minyak, kayu, keahlian dan SDM-nya.
Dijajah oleh Belanda di abad ke-16, kekayaan Indonesia dirampas oleh Barat selama ratusan tahun. Hutang yang sesungguhnya sampai saat ini tak terbayar
Ratusan tahun lamanya, Indonesia itu dihisap oleh negara-negara Utara, bukan hanya Indonesia, semua negara-negara kulit berwarna. Sehingga Barat menjadi kuat, menjadi makmur, menguasai
keuangan dan perdagangan sampai sekarang.
Sekarang didikte oleh IMF, oleh Bank Dunia. Negeri yang begini kaya diubah menjadi negara pengemis:
Indonesia. Karena tidak adanya karakter pada elit (penguasa).
Sebagai sebuah lembaga yang 18% sahamnya dikuasai Amerika, IMF tentu tidak dapat mengelak dari keharusan untuk menyebarluaskan ideologi free markets dan free trade tersebut. Secara terinci, hal itulah sesungguhnya yang terungkap dalam sebuah paket kebijakan ekonomi yang dikenal sebagai paket kebijakan Konsensus Washington.
Bila dicermati lette of intents (LoI) yang pernah ditanda tangani Pemerintah Indonesia bersama IMF, tidak terlalu sulit untuk disimpulkan bahwa IMF pada dasarnya memang bekerja sesuai dengan amanat para pemodalnya. Artinya, misi untuk menyelenggarakan 'free markets' dan 'free trade' itulah sesungguhnya yang mengikat IMF dan para ekonom neoliberal tadi untuk mempertahankan campur tangan IMF di sini.





